Langkah Pertama yang Masih Ragu di SMP Muhammadiyah Palangka Raya
Senin pagi, 2 Maret 2026, menjadi awal perjalanan baru bagi seorang mahasiswi yang menjalani PLP 1. Udara masih terasa segar ketika ia berdiri di depan gerbang sekolah berwarna hijau yang tampak teduh dan bersih. Bangunan itu berada dalam satu lingkup dengan Universitas Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah, menciptakan suasana lingkungan pendidikan yang saling berdampingan.
Meski terlihat tenang dari luar, di dalam hatinya justru penuh kebingungan.
Hari pertama itu ia akui sebagai hari “clingak-clinguk”. Matanya lebih banyak mengamati sekitar daripada melangkah mantap. Ia memperhatikan lorong sekolah, ruang guru, letak kantor Tata Usaha, serta ritme aktivitas pagi yang sudah teratur bagi warga sekolah—namun masih terasa asing baginya.
Karena masih dalam tahap observasi, ia belum masuk kelas untuk mengajar. Kegiatannya difokuskan pada pengamatan lingkungan sekolah dan struktur organisasi. Ia bertemu dengan bagian Tata Usaha untuk mengetahui sistem administrasi, serta dikenalkan dengan wakil kepala sekolah yang menjelaskan gambaran umum kegiatan belajar mengajar.
Segalanya terasa baru, dan ia sadar bahwa teori yang dipelajari di bangku kuliah ternyata berbeda nuansanya ketika berada langsung di lingkungan sekolah.
Di ruang guru, ia dipertemukan dengan guru pengarahnya, Ibu Eka Krisnawati. Sosok yang ramah, humble, dan terbuka itu menyambutnya dengan hangat. Tidak ada kesan kaku atau menjaga jarak. Justru sikap welcome beliau membuat rasa canggung perlahan berkurang.
“Kalau ada yang ingin ditanyakan, jangan sungkan,” tutur beliau dengan nada bersahabat.
Sepanjang observasi, ia memang lebih banyak bertanya. Tentang jadwal pelajaran, pembagian tugas, hingga kebiasaan siswa di sekolah tersebut. Setiap pertanyaan dijawab dengan sabar dan jelas. Dari situ ia mulai memahami bahwa PLP bukan sekadar formalitas akademik, melainkan proses belajar yang nyata.
Hari itu mungkin tidak menghadirkan kejadian besar atau pengalaman dramatis. Tidak ada momen mengajar di depan kelas, tidak ada peristiwa yang menegangkan. Namun justru dalam kesederhanaan itulah ia belajar satu hal penting: menjadi calon guru dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa masih banyak yang belum diketahui.
Dari rasa bingung, tumbuh rasa ingin tahu.
Dari clingak-clinguk, perlahan muncul kesiapan.
Langkah pertamanya di SMP Muhammadiyah Palangka Raya mungkin masih ragu. Tetapi di balik bangunan hijau yang berdiri satu kawasan dengan institusi pendidikan lainnya, ia mulai memahami bahwa proses menjadi pendidik adalah perjalanan yang bertahap—dan semuanya berawal dari hari pertama yang jujur.
Komentar
Posting Komentar