Tirai yang Tak Pernah Tertutup





Di panggung tampak dua kursi empuk yang saling berhadapan, sebuah sofa di sisi kanan, dan tirai ungu yang menggantung lembut membingkai jendela. Cahaya oranye dari luar menembus celah tirai, menandakan sore yang hampir habis.

Dari suasana ini, saya membayangkan seorang perempuan paruh baya duduk di kursi sebelah kiri, menatap jendela yang perlahan kehilangan cahaya. Di depannya, kursi kosong seperti menyimpan cerita lama  seseorang yang pernah duduk di sana, lalu pergi tanpa sempat berpamitan baik-baik.

Perempuan itu tidak menangis. Ia hanya diam, menunggu tanpa tahu apa yang sebenarnya ia tunggu. Mungkin kabar, mungkin kehadiran, atau sekadar ketukan di pintu yang sudah lama tak terdengar.

Sore itu terasa panjang. Hanya suara jam dinding dan angin di balik tirai yang menemaninya. Tapi meski ruang itu sunyi, ada sesuatu yang tetap hidup di sana  harapan kecil bahwa suatu hari, kursi kosong di hadapannya akan terisi lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sefruit kelompok 10