🎠Saat Gelap Menyapa
Tokoh :
1. Alya (20 tahun) mahasiswa yang baru kehilangan orang yang ia cintai.
2.Raka sahabat lama Alya yang diam-diam menyimpan rasa.
(Suasana malam di taman kampus. Lampu redup, daun berguguran. Alya duduk di bangku batu, menatap langit, earphone menempel di telinga. Lagu “Berhenti Berharap” terdengar lirih. Raka datang membawa dua gelas kopi.)
Raka :
Masih suka lagu itu, ya ?
Alya :
(tersenyum lemah) Iya… lagu ini kayak ngertiin apa yang aku rasain. “Aku berhenti berharap dan menunggu datang gelap…” rasanya pas banget.
Raka :
(duduk di sampingnya) Kamu tahu, berhenti berharap itu bukan berarti kalah. Kadang cuma cara buat nyembuhin diri.
Alya :
Aku nggak tahu, Rak. Dulu aku pikir cinta bisa nyembuhin segalanya. Tapi ternyata cinta juga bisa bikin orang hilang arah.
Raka :
(serius menatap Alya) Kadang kita nggak kehilangan orangnya, Ly. Kita cuma kehilangan rencana yang kita buat bareng dia.
Alya :
(terdiam, menatap kopi di tangannya) Aku cuma pengen bisa tenang tanpa harus pura-pura kuat. Semua terasa hampa, Rak.
Raka :
(kembali lembut) Kamu nggak harus pura-pura. Nangis aja kalau mau. Tapi setelah itu, janji ya, kamu bakal belajar bahagia lagi. Nggak buat dia, tapi buat dirimu sendiri.
Alya :
(tersenyum tipis, air mata jatuh) Kamu selalu tahu caranya bikin aku sadar. Mungkin benar, berhenti berharap bukan akhir dari segalanya.
Raka :
(tersenyum hangat) Justru awalnya. Kadang Tuhan cuma minta kita berhenti berharap pada yang salah, supaya bisa belajar berharap pada diri sendiri.
(Hening sejenak. Hujan mulai turun pelan. Alya menatap ke langit, lalu menutup matanya. Raka memayungi mereka dengan jasnya. Lagu berhenti, hanya terdengar suara hujan.)
Komentar
Posting Komentar