Langkah di Tangga Perpustakaan
Suasana sore di dalam gedung Perpustakaan Universitas Palangka Raya. Dari jendela besar, cahaya matahari masuk lembut. Tangga hijau tampak menjulang ke atas. Tiga mahasiswa berdiri di lantai dua, bersandar di pegangan tangga.
Di tangga yang sunyi, tempat langkah-langkah mahasiswa berpapasan dengan harapan, tiga jiwa muda berhenti sejenak.
Mereka tak sedang naik atau turun, tapi berpikir—tentang ilmu, tentang hidup, dan tentang arah yang mereka pilih.
Laras :
berdiri memandangi jendela kaca
Indah ya, lihat dari sini. Cahaya sore kayak masuk langsung ke kepala, bikin tenang.
Bima :
tersenyum
Tenang karena belum liat tumpukan tugas di meja perpustakaan atas. Naik ke sana langsung hilang damainya.
Rafi :
tertawa kecil
Tapi dari sanalah ilmu datang, Bim. Kadang rasa pusing itu justru tanda kita lagi berkembang.
Laras :
kepalanya miring penasaran
Bang Rafi, kenapa ya tiap naik tangga ini rasanya beda ?
Kayak... tangga ini bukan sekadar menuju lantai atas.
Rafi :
menatap ke arah atas tangga
Karena setiap langkahnya penuh makna.
Tangga ini saksi perjuangan kita: dari mahasiswa baru yang bingung arah, sampai jadi sarjana yang paham arti perjalanan.
Bima :
sambil duduk di anak tangga
Kalau gitu, boleh dong aku berhenti di tengah tangga dulu. Capek, Bang.
Rafi :
tersenyum bijak
Boleh, asal nggak menyerah. Dalam hidup pun, kadang kita perlu berhenti sebentar buat lihat sekeliling. Tapi jangan lupa lanjut lagi.
Laras :
nada lembut
Berarti... naik tangga itu kayak menuntut ilmu, ya?
Nggak bisa langsung sampai puncak, harus pelan, sabar, dan mau jatuh-bangun.
Rafi :
natapannya hangat
Benar. Dan di atas sana bukan cuma buku yang menunggu, tapi masa depan yang kamu bentuk sendiri.
Tiga mahasiswa itu melangkah lagi.
Langkah mereka bergema di antara dinding kaca dan suara angin yang menembus jendela.
Mungkin suatu hari nanti, mereka tak akan ingat percakapan ini,
tapi tangga hijau perpustakaan itu akan selalu mengenang:
bahwa di sinilah semangat belajar pernah tumbuh pelan tapi pasti.
Mereka bertiga menaiki tangga bersama. Cahaya sore menyinari wajah mereka. Musik lembut mengiringi hingga tirai perlahan turun.
Komentar
Posting Komentar